Pregnancy: The Unpredictable First Semester

IMG_201902012023350.JPG

Hello 2019! Sesuai janji, pelan-pelan saya akan menceritakan tentang apa aja yang saya alami dan pelajari semasa hamil ini. Nggak mudah, karena namanya juga masih kehamilan pertama, tentu lebih banyak diisi dengan perasaan was-was dan segambreng pertanyaan yang nggak habis-habis hahaha. Tapi sepertinya banyak temen-temen yang lagi hamil juga dan kadang pengen tahu pengalaman masing-masing. Jadi di post ini, saya pengen berbagi tentang pengalaman melewati trisemester pertama yang dimulai dari awal kehamilan sampai minggu ke-13... Yah kurang lebih tiga bulan deh, sebuah momen yang saat itu terasa begitu panjang buat saya dan Pak Ge. But in a great, no, the best way possible, actually! Kenapa? Karena kami berdua sama-sama belajar banyak hal baru, dan jadi team yang oke dalam menghadapi kehamilan ini. Jadi mungkin itu sebabnya kenapa trisemester pertama rasanya lumayan panjang, selain karena cuma sedikit banget orang yang tahu soal kehamilan saya, juga karena saya dan Pak Ge bener-bener membiarkan diri kami berdua terserap di setiap detik yang terlewat. 💞


THE GENERAL ASSUMPTION


Sebelum mengalami sendiri, di kepala ini rasanya ada anggapan bahwa semester pertama kehamilan adalah masa yang "menakutkan". Terutama karena sering denger tentang drama morning sickness, tentang hormon yang jungkir balik, trus tentang resiko keguguran yang lebih tinggi selama masa ini. Ternyata semester pertama itu bukan tentang ketiga hal tersebut aja, tetapi jauhhhhh lebih banyak lagi. Beberapa hal utama: di semester inilah organ-organ utama janin berkembang secara pesat dan signifikan. Kemudian, sebagai Ibu, badan kita juga mulai berubah untuk mengadaptasi peran baru sebagai "rumah" bagi si bayi. Waktu mulai belajar soal karakter semester pertama dan penyebab di balik gejala-gejala yang sering terjadi, akhirnya ketakutan saya mulai memudar pelan-pelan. Momen semester pertama ini bukan untuk ditakutkan, melainkan untuk dipahami dengan sebaik mungkin. Pembelajaran utama yang saya pegang dari periode ini adalah: bahwa setiap kehamilan itu unik dan sama berharganya. Mau gimana cara hamilnya, ngidamnya apa dan setiap hari mood-nya gimana, setiap perempuan pada dasarnya sedang mengalami pengalaman yang bener-bener spesial dan istimewa. There's no need to overly worried, there's no need to compare anything. Seperti yang dokter saya bilang, every mother's experience can be so different from one another, and all is perfectly normal!

Hari-hari awal hamil yang penuh dengan tidur!

Hari-hari awal hamil yang penuh dengan tidur!

Tentunya ditemani Jonah dan Joni yang setia <3

Tentunya ditemani Jonah dan Joni yang setia <3


MY VERY OWN SYMPTOMS


Tentu antara satu perempuan hamil dengan yang lain pengalamannya bisa sama, dan juga berbeda. Nah saya sendiri mengalami beberapa hal yang bisa dibilang cukup 'normal' terjadi di awal kehamilan, tetapi juga ada gejala yang nggak saya alami sama sekali. Berhubung banyak yang sering menanyakan di DM Instagram, berikut satu per satu detailnya disini yah:

  1. ‘ENEG’ SEPANJANG HARI

    Kalau dibilang mengalami morning sickness yang terkesan seperti muntah-mual secara terus menerus, sebenarnya enggak juga. Awal hamil aja yang rasanya semacam ada sensasi “eneg”, atau sedikit mual tapi nggak sampai pengen muntah. Si eneg ini juga nongol di situasi tertentu misalnya saat mata terkena sinar matahari yang terang banget, terpaan AC dingin, atau abis makan yang agak kenyang gitu. Saat pertama konsultasi ke dokter, dikonfirmasi memang perasaan eneg dan mual itu sangat wajar terutama di usia kehamilan trisemester pertama. Penyebabnya? Hormon, ibu-ibu! 😂 If I’m not mistaken, nama hormon-nya hCG. Hormon ini adalah reaksi normal tubuh saat ada kandungan yang mulai berkembang di tubuh kita. Hanya aja efeknya berbeda antara satu sama lain… ada yang mual banget, ada yang sampe ngga doyan makan, ada yang mualnya sembilan bulan nggak hilang. Apapun jenis mual-nya, mari kita tabah dan nikmati bersama ya!

  2. PENCIUMAN BERUBAH JADI SUPER SENSITIF

    Entah kenapa tiba-tiba jadi sangat gampang terganggu sama bebauan yang tadinya mungkin nggak pernah saya notice sehari-hari. Parfum tertentu, bau badan orang lewat, bau badan sendiri 😂😂😂 Yang paling mengganggu adalah wangi yang berlebihan, jadi di awal hamil sempet nggak mau pakai parfum, cuma mau yang aromanya tipis banget kayak kapas. Trus tentu saja bau asap rokok ya, kalau lewat atau pas kebetulan satu ruangan yang ada asap rokoknya rasanya langsung pusiiing. Di sebagian cerita temen-temen, faktor penciuman sensitif ini bikin mereka sensi sama wangi suaminya sendiri! Lucu banget ya, bisa gitu :”)

  3. NGGAK DOYAN SAYUR, SAMA SEKALI!

    Sebelum hamil, saya lumayan pemakan sayur: dari lotek dan pecel, sampe ke cah sawi dan brokoli dan lain-lain. Suka banget sama kangkung dan sayur asin. Setelah hamil? Rasanya nyium bau sayur sedikit langsung eneg dan hilang napsu makan. Aneh banget pokoknya! Kebetulan Pak Gege sendiri emang nggak terlalu suka sayur orangnya, jadi mertua dan temen-temen saya suka bercanda dan bilang kalo ke-tidak-doyanan saya sama sayur itu adalah bukti bahwa si bayi betul-betul “anaknya Gege”. Ya bebas 😂 Lumayan bikin repot sih ini dalam hal makan, karena otaknya pengen sayur tapi hidung dan mulutnya nggak mau toleransi sayur sama sekali. Untuk menyiasati kurangnya sayur ini akhirnya saya bikin sayurnya jadi green smoothies aja biar tetep makan sayur tanpa mencium baunya. It works!

  4. ENERGY DRAINED + ALL-DAY SLEEPING

    Tiga bulan pertama hamil beneran ngerasain yang namanya tidur sepanjang hari, setiap hari. Meskipun badan nggak ngedrop, tapi energi tuh rasanya cepet banget habis. Jadi cepeeeet banget ngerasa capek. Habis sejam kerja, tidur empat jam. Habis ketemu orang dua jam, bisa tidur dari sore sampe malem hahahah 😂 Zombie-mode-ON. Untungnya tiap kali bolak balik Jogja-Jakarta selalu dapet suntikan energi, jadi bisa tahan selama penerbangan. Yang jadi pelajaran terpenting adalah gimana saya jadi bener-bener mendengarkan tubuh dan perasaan saya dengan jauhhhh lebih detail lagi. Saya mulai paham kapan badan harus istirahat dan kapan dia harus “bernapas” secara lebih pelan. Saya juga mulai bisa membedaan kapan hati merasa gundah dan kapan hati ingin merayakan. Rasanya jadi jauh lebih dekat sama diri sendiri, dan somehow, rasanya jadi lebih dekat sama si janin dan orang-orang di sekitar saya.

  5. KULIT KERING

    Perubahan fisik yang sangat berasa di trisemester ini adalah, kulit saya kering banget! Sampe tangan tuh bisa “bersisik” alias nongol kulit keringnya saat saya nggak olesin extra lotion atau cream. Penolongnya? Body cream yang sangat sangat sangat “oily” dan mudah diserap kulit. Beberapa produk yang saya pakai: Almond Oil dari L’Occitane, Velvet Oil dari Chanel, dan Body Butter-nya The Body Shop. Almond Oil rutin saya oles ke perut yang mulai melar sejak awal kehamilan, trus dipijat untuk ngurangin rasa gatel (yang katanya terlarang untuk digaruk kalo nggak mau ada selulit nantinya 😂😂). Sementara untuk wajah, saya cuma pake pelembab aja, beneran males dan nggak mau pakai foundation karena bikin kulitnya super kering. Produk yang dipakai: Moisture Surge dari Clinique yang warna pink (seperti di foto). Sisanya diakalin dengan minum air putih yang banyaaaak (dan sering ke toilet sebagai efeknya).

  6. GUSI BERDARAH

    Hadeh, ini gejala yang paling bikin gemes. Gusi berdarah yang bikin tiap sikat gigi rasanya horor 😂 Memang sebaiknya sebelum hamil tuh kita kontrol dulu ke dokter gigi, bersihin karang gigi. Karena kebetulan hamilnya agak nggak terencana, jadi kelewatan deh kontrolnya kan… Saya baru kontrol di usia kehamilan 4 bulan. Hahahaha. Seijin obgyn, saya bersihin deh tuh karang gigi, sekaligus dikasih obat kumur sama dokter. Sikat giginya juga dikasih yang baru khusus untuk gusi sensitif (brand Sunstar, yang tipe “Gum”). Setelah karang gigi dibersihkan, kumur pakai obat dari dokter dan sikat gigi pelan-pelan akhirnya ilang juga perkara gusi berdarah. Kalau misalnya temen-temen ada yang mengalami juga, segera konsultasikan yaa. Soalnya kalau bisa jangan sampai giginya berlubang, agak susah prosedurnya untuk cabut gigi di kala hamil. Jadi mari kita lebih extra lagi jaga kebersihan gigi dalam masa hamil ini!

  7. BADAN PEGAL-PEGAL

    Perut melar, payudara membesar, seluruh badan puegaaaaal. Mau seharian santai juga rasanya tetep pegel sekujur badan. Solusinya? Essential oils to the rescue! Saya sering membalurkan essential oil ke bagian badan yang pegal, terutama leher dan punggung. Pak Gege juga sangat sigap sebagai tukang pijat yang baik hati saat pegal-pegal menerpa. Produk yang saya pakai: “Joy” dan “Lavender” dari Young Living. Ada juga ramuan minyak kutus-kutus dari Mama sahabat saya, Lizzie, yang sering saya pijetin ke kaki dan telapak kaki sebelum tidur. Lumayan banget untuk mengurangi rasa pegal yang berlebih, dan bikin tidur jadi pulas.

  8. JADI GALAK!

    Sejujurnya saya emang lumayan galak sih kalau boleh jujur, terutama sama orang terdekat hahahaha. Cuma sejak hamil ini bawaannya jadi lebih “galak”, karena saya nggak segan lagi buat mengutarakan pendapat dan keinginan saya secara apa adanya. Entah dorongan dari mana, mungkin dari si bos di perut ya hehe. Yang jelas keluarga dan temen-temen pada komentar kalo saya jadi lebih galak 😂 Lebih cuek, lebih bodo-amat, lebih bisa bicara tanpa basa basi. Mungkinkah bawaan bayi? Atau ketularan suami? Sungguh misteri dan semacam hanya Tuhan yang akan tahu pasti penyebabnya kenapa 😁😁😁

  9. SANGAT MALAS BUKA GADGET DAN SOCIAL MEDIA

    Iya, bener. Trisemester pertama rasanya malaaaaaaaaaaaas banget buka henpon, malas banget akses sosial media (kecuali jika terpaksa). Saya cuma pengen baca buku dan nulis dan membenamkan diri di selimut, sambil nonton Netflix. Maunya ketemu temen, nggak mau instastory. Bisa jadi karena saya belum mau cerita juga di sosmed soal kehamilan, ya. Dan karena lagi “asik” banget sama pengalaman baru yang lagi saya alami di dunia nyata. Apapun itu penyebabnya, saya tetap merasa kalau break dari sosial media itu selalu baik dan menyegarkan buat kita-kita yang kayaknya tiap hari kerjaannya mantengin henpon melulu. Gejala yang satu ini ilang sih di semester kedua. Jadi bisa ada hubungannya sama mood trisemester pertama juga. Nonetheless, I enjoyed my social media break. Kekhawatiran jadi hilang (karena nggak ada tekanan untuk harus catch-up sama semua orang via konten), pikiran jadi lebih tenang, dan menjalani apa-apa jadi nggak terburu-buru aja rasanya. Pregnant or not pregnant, do ry the social media detox sometimes!

  10. A CONSTANT FEEL OF CALM AND HAPPY

    To wrap everything up, I must say, lepas dari segala gejala yang lumayan lucu dan aneh diatas, I’ve been feeling soooo very happy and somehow calm during the first semester. Kalo lagi nonton film yang super berisik dan cenderung violent, saya bisa memejamkan mata sambil elus-elus perut dan semacam mengirimkan sinyal ke si janin untuk tetap kalem di dalam sana. Saya bisa stop di tengah suasana hectic yang penuh tekanan atau stress dan menarik napas, menenangkan diri saya sendiri dengan mudah. This is a very special moment, and yet everything seemed (and felt) so deeply, strongly natural. Mau ada kendala seperti apapun, tetap ada rasa bahagia dan syukur yang mendalam terselip di hati saya; meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa proses kehamilan ini indah dan saya bisa melewatinya.


Santapan sehari-hari: donat yang cuma polosan aja, pisang rebus, dan vitamin dari dokter 😄

Santapan sehari-hari: donat yang cuma polosan aja, pisang rebus, dan vitamin dari dokter 😄

By the end, all I can say is: this is just a part of a beautiful journey, the first semester. A process for us to understand and to embrace. Saya bersyukur sekali karena Tuhan dan semesta memberkati saya dengan proses kehamilan yang tenang dan damai sampai saat ini. Semoga saat kalian membaca postingan ini, kalian juga merasakan rasa syukur yang sama ya, atas hal baik di hoidup kalian, atas semangat kalian dalam menghadapi cobaan yang tidak pernah luntur. Salah satu hal yang membuat saya ikut senang adalah saat bisa turut mendoakan teman, atau bahkan strangers yang berinteraksi dengan saya di social media, untuk bisa “menyusul” hamil juga. I know how hard it can be to wait, but I genuinely believe that everybody will find their own best time to be pregnant. Jika kamu salah satu yang sedang menanti, tersenyumlah dari dalam hati dan yakinkan diri bahwa saat yang terbaik itu akan datang. Dari sini saya berdoa untukmu. Kita percaya sama-sama ya. Peluk erat!

bisous.png