Hi.

If you stumbled upon this blog, that means our stars have crossed somewhere up above; possibly thousand years back. Some things change, but it's always nice to see a familiar face.

Let me wander with you.



Pregnancy: "MITONI", The Traditional Javanese Ceremony (Tujuh Bulanan)

Pregnancy: "MITONI", The Traditional Javanese Ceremony (Tujuh Bulanan)

Tanggal 19 Maret lalu, saya dan pak Gempa melewati sebuah ritual adat Jawa yang bernama "Mitoni", atau biasa juga disebut Tingkeban dan Tujuh-Bulanan. Buat yang belum familiar, pada dasarnya sih Mitoni ini semacam upacara syukuran dan doa yang dilaksanakan untuk memperingati usia kehamilan di bulan ke-tujuh. Tujuan utamanya adalah untuk memohon keselamatan sang calon anak yang sebentar lagi akan dilahirkan. Nah, selama ini saya merasa cukup familiar dengan mitoni, karena Papa orang Jogja dan beberapa saudara serta teman saya juga melaksanakan upacara adat ini dimasa kehamilannya... tetapi ketika mengalami sendiri, ternyata Mitoni nggak hanya sekedar ritual "biasa" yang sekedar lewat aja lho, melainkan sebuah pengalaman yang unik dan banyaaak banget filosofinya, yang jika saya resapi betul-betul seolah menjadi wejangan yang menguatkan proses persiapan melahirkan. Saya ceritain detailnya di post ini ya...

IMG_2019040210564223.jpg

Pertama-tama, mungkin ada yang belum pernah denger, Mitoni ini berasal dari kata "tujuh" di bahasa Jawa, yaitu "Pitu" = pitonan ("tujuh-an") = mitoni (tujuh-bulanan). Ada yang menyebut upacara ini Tingkeban juga, yang asal istilahnya dari kata "tingkeb" atau "tutup", menandai upacara ini jadi ritual penutup selama kehamilan, sampai nantinya bayi dilahirkan. Biasanya memang upacara Mitoni/Tingkeban ini jadi "hajatan" terakhir sih buat orang Jawa, ibaratnya setelah Mitoni yah si calon Ibu diharapkan memasuki masa tenang (semacam lagi ujian nasional atau kampanye), supaya bisa fokus ke persiapan melahirkan. Kalau di keluarga saya, saya dan pak Gempa dilarang belanja apapun buat si bayi sebelum melewati Mitoni. Kami diminta menunggu supaya kandungannya sudah "kuat" secara resmi (ditandai oleh Mitoni tadi), karena secara medis memang usia tujuh bulan ini bayi sebenarnya sudah mulai memasuki fase kematangan, kalaupun terlahir di usia ini kondisinya sudah bisa dibilang cukup "aman" dibandingkan sebelum-sebelumnya. Eyang saya terutama sering mengaitkan unsur "pitu" ini dengan "pituduh" (petunjuk) dan "pitulungan" (pertolongan), mengibaratkan bahwa dengan adanya upacara mitoni ini, kami semua akan mendapatkan pertolongan dalam mempersiapkan kelahiran sang bayi ke dunia. Bagus ya, maknanya.

Nah, saat mempersiapkan acara ini, saya jadi belajar soal beberapa detail Mitoni yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Pertama, bahwa meskipun Mitoni ini dikaitkan dengan momen tujuh bulan usia kehamilan, tetapi ternyata dilaksanakan pada saat kehamilan justru sudah melewati usia tujuh bulan, yaitu memasuki usia hamil delapan bulan. Dulu kirain pas harus usia tujuh bulan banget. Baru tahu soal ini saat mencari tanggal Mitoni yang dibantu oleh Ibu Hj. Tienuk Rifki, kerabat baik Mama mertua yang sejak pernikahan saya selalu menjadi pendamping acara adat di keluarga kami. Kedua, info dari eyang putri saya (yang dikonfirmasi oleh Bu Tienuk juga), upacara Mitoni harus dilakukan antara hari Selasa atau Sabtu, tidak bisa hari lainnya. Jadilah kami memilih tanggal di antara kedua pilihan hari tersebut. Pada 19 Maret, usia kehamilan saya kira-kira memasuki usia delapan bulan lewat dua Minggu (34 weeks), jadi pas buat pelaksanaan Mitoni. Ketiga, rangkaian upacara mitoni itu ternyata nggak harus panjang rentetannya, bisa dimodifikasi sesuai keinginan kita... Yang penting dikonsultasikan dulu ke pemandu Mitoni-nya, bagian mana aja yang wajib untuk tetap dilakukan, dan bagian mana yang boleh dihilangkan. Di Mitoni saya misalnya, pak Gempa berharap dia nggak usah terlalu banyak jadi pusat perhatian (selaluuu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚), jadi bagian yang dia nggak harus lakukan kemudian di-skip deh. Selain praktis, jadinya efisien juga dari segi waktu, sehingga tamu-tamu nggak akan lelah menunggu upacara yang kelamaan karena rundown-nya dibuat padat. Keempat, bahwa Mitoni itu umumnya adalah hajatan keluarga laki-laki. Kebetulan juga, berhubung keluarga saya di Jakarta semua dan mertua di Jogja, akhirnya seluruh rangkaian acara disiapkan di Jogja sekalian.

Di postingan kali ini, saya akan sharing soal ritual yang dilaksanakan di Mitoni kemarin secara garis besar per bagian ya... Mari kita mulai! πŸ’–


MAKEUP & SANGGUL


IMG_201904021056423.JPG

Yak, pertama-tama harus membahas soal cecentilan ya... Namanya juga punya acara, pasti pengen tampil pantas dan fresh dong meskipun perut udah makin bulat dan wajah menggembil 😝 Karena upacara Mitoni akan dilaksanakan di Jogja, jadi saya langsung deh kontak MUA kesayangan, neng Astrid Anisah. Suka banget sama style makeup Astrid yang natural dan nggak medhok. Makeupnya juga terbukti tahan banting (udah beberapa kali makeup sama Astrid untuk acara pagi sampai malem, coverage-nya bagus banget nggak ada luntur atau cracking sedikitpun. Jadilah di mitoni kemarin kami berjumpa lagi... dan bisa dilihat, hasilnya sungguh halus dan bikin bumil langsung merasa cuantek. Di bawah ini foto hasil makeup Astrid tanpa diedit:

IMG_201904021056421.JPG
IMG_201904021056420.JPG
IMG_201904021056422.JPG

Cakep yah? Kalau suka atau pengen lihat-lihat makeup astrid yang lain, monggo langsung ke Instagramnya aja: @astridanisah ❀️ Astrid ini base-nya antara Surabaya dan Jogja, tapi bisa juga ke kota lain. Jadi kalau naksir, bisa coba kontak dan tanya-tanya langsung yah...

Kemudian untuk sanggul, saya dan keluarga semuanya disanggul oleh perias-nya Bu Tienuk. Nama salon riasnya Bu Tienuk adalah Titi Sari Grya Paes, siapa tahu mau kontak, infonya ada di Instagram official Bu Tienuk yang ini: @tienukrifki .

Baiklah, persiapan dandan udah kelar, mari kita mulai memasuki rangkaian acara yang sesungguhnya!


IBADAT SABDA


IMG_2019040213364729.JPG

Acara apapun itu akan lebih baik dan melegakan jika selalu dimulai dengan doa. Ada yang melaksanakan pengajian sebelum upacara, atau doa bersama. Sebagai pengikut Katolik, kami memulai rangkaian acara dengan Ibadat Sabda yang dipimpin oleh Romo. Ibadat Sabda ini cukup singkat, rangkaian doanya nggak sampai setengah jam. Kami sama-sama berdoa untuk meminta berkat atas acara, dan atas kandungan yang telah dianugerahkan kepada saya dan pak Gempa. Setelah itu baru deh kami bersiap untuk memasuki rangkaian upacara Mitoni yang letaknya ada di lokasi berbeda (acara doa dilaksanakan di Joglo kecil, sedangkan acara utama di Limasan besar).

IMG_201904021336476.JPG
IMG_201904021336472.JPG

PRE - PROSESI MITONI


IMG_2019040210564212.JPG

Eh, sebentar, setelah Ibadat Sabda ternyata ada waktu yang masih cukup untuk sekedar duduk atau leyeh-leyeh sembari menunggu tamu berkumpul. Jadi akhirnya digunakan untuk foto-foto dulu. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

IMG_2019040210564221.jpg
IMG_2019040213364726.JPG
IMG_2019040213364725.JPG
IMG_2019040213364724.jpg
IMG_2019040213364727.jpg

Acara Mitoni ini yang mengatur sepenuhnya adalah keluarga pak Gempa, saya cuma perlu booking MUA dan bawa diri aja ke lokasi πŸ˜„ Jadi dari tempat, dekor, sampai ke printilan souvenir dan dokumentasi semuanya udah dipilih sama Ibu Mertua. Lokasi sudah ditentukan jauh-jauh hari, di properti yang kebetulan adalah milik mertua sendiri yaitu di Pulen Kopi Ponti yang dari ujung sampe belakang tema bangunannya udah "Jowo banget". Seperti yang udah sering saya ceritain di Instagram, Ibu mertua saya ini jagoan masak, semua menu di Pulen ini hasil kreasi beliau... Jadi soal konsumsi sudah dipastikan nggak perlu khawatir karena yang turun tangan beliau sendiri. Lalu untuk Tim dokumentasinya sendiri adalah tim dari Kencana Photography. Foto-foto di post ini hampir semuanya dari mereka, cuma saya edit tone-nya sendiri supaya cocok sama mood Lucedale yang agak gelap and vintage hahahaha. Nanti untuk detail vendor yang berpartisipasi akan ada list-nya di bagian akhir post.

IMG_201904021336479.JPG
IMG_2019040210564219.JPG
IMG_2019040210564211.JPG

Memasuki area mitoni ternyata tetep pakai iring-iringan seluruh keluarga gitu... jadi kami berbaris rapi deh di depan Joglo, bersiap buat jalan ke area utama. Kalo udah baris gini baru keliatan efek seragamnya... Bikin harmoni warna jadi keliatan menonjol sekaligus membaur dengan unsur kayu di sekeliling. Tema acara sendiri sebenernya lebih ke warna-warna natural, dekornya kan hanya hijau-hijau-an dan bunga putih, seragam semuanya menggunakan kain batik tulis Jogja yang warnanya lebih ke putih-cokelat... Untuk beskap yang laki-laki warna cokelat muda, seragam ibu-ibu dan ipar perempuan warna putih krem. Saya dan eyang putri kembaran warna sage atau hijau mint yang agak pucet dikit. Suka banget sama warna-warna ini, lembut dan sesuai dengan referensi bumil yang sepanjang hamil demen warna feminin yang cenderung dusty ✨


SUNGKEMAN


IMG_2019040210564226.JPG

Rangkaian ritual Mitoni dimulai dengan prosesi Sungkeman, yang kurang lebih artinya bersujud atau bersembah. Kalau adat Jogja, ada tata caranya tersendiri: dimulai dari duduk bersimpuh yang rapi, lalu menyatukan kedua telapak tangan hingga terkatup dan diangkat hingga setinggi hidung (posisi menyembah yang di hadapannya), dilanjutkan dengan menempelkan ujung jempol ke bawah dagu dan perlahan-lahan mencondongkan badan hingga keempat jari lainnya menyentuh lutut si penerima sungkem. Setelah itu baru deh, masih dalam keadaan bersimpuh, kita mengucapkan kata-kata yang ingin diutarakan, biasanya ucapan terimakasih dan permohonan doa. Urutan sungkeman saat mitoni ini yang pertama adalah suami, yaitu pak Gempa (yang pas disungkem malah cengengesan, padahal istrinya udah terharu karena ini pertama kalinya sungkem ke suami hahahaha). Setelah kelar sungkem ke pak Gempa, kami berdua bareng-bareng sungkem ke kedua orang tua, dan tambahannya yang terakhir adalah sungkem ke Eyang Putri saya tersayang.

IMG_2019040210564218.JPG
IMG_2019040210564217.jpg
IMG_2019040210564231.JPG
IMG_2019040210564232.JPG

Sesi sungkeman ini bukan hal yang sering kita lakukan sehari-hari, jadi buat saya pribadi rasaya selalu haru dan penuh syukur. Di kehidupan saya selama ini, orang tua saya selalu memberi kebebasan dan menempatkan saya di posisi "sejajar" dengan mereka, lewat cara mereka berkomunikasi dan mendengarkan pendapat saya, misalnya. jadi saat saya sungkem dan bersimpuh di lutut sebagai tanda hormat kepada mereka, rasanya campur aduk, tapi terutama syahdu dan begitu damai :") Apalagi kemudian mereka akan meletakkan kedua tangannya di pundak saya, mencongdongkan badannya lalu membisikkan kata-kata penguatan dan doa. Sungguh momen yang selalu mengisi penuh hati saya dengan syukur. πŸ™


SIRAMAN


IMG_2019040210564227.JPG

Yak, setelah sungkeman berakhir, saya "digiring" oleh kedua kakak ipar, untuk masuk ke bilik tersembunyi dan ganti kostum. Kebaya ditukar kain jumputan warna hijau tua, lalu ditumpuk dengan ronce melati yang menutupi pundak sampai ke atas perut. Ini adalah kostum untuk prosesi siraman. Seperti halnya saat melakukan siraman sebelum menikah, prosesi siraman saat Mitoni juga bertujuan untuk pembersihan diri, yang dilakukan secara fisik (simbolis) untuk menjauhkan jiwa sang Ibu dan calon anak dari kotor/dosa. Tujuannya supaya secara moral sang Ibu siap menuju proses melahirkan yang suci dan bersih dari segala halangan. Sebelum siraman dimulai, kedua calon eyang putri (mama saya dan mama mertua) meracik dulu air dan bebungaan yang akan digunakan untuk menyiram. Air siraman-nya merupakan campuran mata air dari tujuh sumber berbeda.

IMG_201904021056428.JPG
IMG_2019040210564225.JPG
IMG_2019040210564236.JPG
IMG_2019040210564215.JPG
IMG_2019040210564224.JPG
IMG_2019040210564216.JPG
IMG_2019040210564237.JPG

Jumlah penyiram di ritual adat Jawa selalu harus ganjil. Penyiram utama kemarin adalah kedua calon Eyang Putri alias Mama Martha dan Mama Vivi, disusul dengan yang terkasih:
1. Ibu GKBray. Atika Suryodilogo (KGPAA Paku Alam)
2. Ibu BRAy Aryuni (GPBH Hadiwinoto)
3. Ibu BRAy Roswarini (GPBH Prabukusumo)
4. Ibu Tatik Hendropriyono
5. Eyang Putri Maria Margareta Sri Murtinah

Oh iya... Sebelum Mitoni, pas gladi resik, udah ditanyain sama team Bu Tinuk: mau air hangat atau air dingin? Berhubung saya merasa kepanasan terus memasuki trimester ketiga, jadi pilih air dingin. Ngga taunya pas disiram kedinginan karena airnya beneran dingin, plus kanan kiri belakang ada standing AC yang kenceng banget πŸ™Š Besok-besok kalo bisa milih, pilih air hangat aja ya! πŸ˜„

IMG_2019040213364723.JPG
 
IMG_2019040210564248.jpg

Setelah urutan siraman udah kelar, dilanjut dengan beberapa selipan ritual kecil, yang pertama namanya "Muloni", yaitu pengucuran air klenting tanpa henti oleh kedua calon Eyang Putri kepada calon Ibu. Jadi mama saya dan mama Martha harus mengucurkan air dari kendi nggak boleh keputus sampai tetes terakhir, supaya nanti persalinannya mengalirrrr lancar bak si air yang disiramkan... Kemudian setelah kendi air udah kosong, mereka harus memecahkan kendi tersebut dengan cara dibanting kenceng-kenceng ke lantai, sambil diiringi gamelan dan ucapan "Ora mecah klenting nanging mecah dalane calon putuku!" - (Bukan memecahkan kendi melainkan memecahkan (membukakan) jalan lahir calon cucuku!). Daaaan sekuat tenaga Mama Vivi serta Mama Martha memecahkan itu kendi hingga berkeping-keping. Semoga dilancarkan jalan lahir kami yah *usap-usap perut*


IMG_2019040213364720.jpg
IMG_201904021528057.JPG

Setelah Mecah Pamor, tim Bu Tienuk memakaikan "sembagi", kain yang menyimbolkan tujuh macam warna lambang kehidupan (putih, merah, kuning, hijau, biru, ungu dan hitam). Kemudian setelah kain terpasang melingkari badan saya, dilanjutkan dengan yang namanya "nylorotaken tropong", yaitu aksi menjatuhkan alat penenun kain oleh Mama Martha dan Mama Vivi. Tujuannya lagi-lagi untuk menyimbolkan kelancaran kelahiran serta kelancaran kehidupan si calon bayi di dunia kelak. Nah berikutnya baru deh saya diberi handuk, kemudian dibungkus jubah dan dilarikan ke ruang ganti lagi untuk upacara selanjutnya (yang adalah upacara utama di tiap acara Mitoni): pantes-pantesan!

IMG_2019040210564213.JPG

PANTES-PANTESAN


IMG_2019040210564235.JPG

Pernah nggak, denger sepintas tentang acara Mitoni dimana si calon Ibu disuruh ganti baju sampai tujuh kali di depan hadirin sekalian? Ini adalah saatnya. Dinamakan pantes-pantesan, karena pada intinya sepanjang ganti baju tuh si calon Ibu akan dinilai "kepantasannya" oleh tamu yang hadir. Tentunya nggak ganti baju beneran ya πŸ˜… melainkan hanya ganti baju luaran aja yang bentuknya kebaya dan kain. Tapi emang jumlah kebayanya ada tujuh: enam pasang pertama berupa kebaya brokat yang cantik dan berpayet-payet, melambangkan kemewahan. Keenam kebaya ini dipasangkan dengan kain batik (jarik) yang memiliki arti baik dan berbeda-beda. Misalnya motif batik Truntum, yang memiliki makna agar kebaikan serta budi luhur orang tua dapat menurun ke anaknya kelak. Atau motif Wahyu Tumurun, yang bermakna pengharapan supaya anak yang akan lahir dapat selalu berusaha mendekatkan dirinya pada Tuhan Yang Maha Esa. Nah, sepanjang bergonta-ganti baju ini, setiap kali pasti pembawa acara (MC) akan meminta tamu menjawab pertanyaan: "Sampun pantes, dereng?" ("Sudah pantas atau belum?") - dimana tamu harus menjawab "Dereng..!" atau "Belum..!" dari baju pertama hingga ke-enam. Kenapa demikian?

IMG_2019040213364721.JPG
IMG_201904021528054.JPG
IMG_201904021528050.jpg
IMG_201904021056429.JPG
IMG_201904021528055.JPG
IMG_201904021528053.JPG

Menjawab pertanyaan diatas, karenaaa, prosesi pantes-pantesan ini bertujuan untuk mendoakan agar si anak bisa selalu "pantas" dalam semangat kesederhanaan. Makanya yang disetujui sebagai pantes adalah busana terakhir yang berupa kebaya lurik. Lurik, sebelum trend busana sekarang, bukan pilihan populer untuk membuat kebaya, dan dikenal akan kesan kesederhanaannya. Jadi di setiap mitoni, ending dari pergantian busana selalu terjadi saat calon Ibu memakai si kebaya lurik itu tadi. Ibaratnya: kalau si calon anak ini terlihat "pantas" saat memakai pakaian yang paling sederhana, berarti hidupnya akan dilancarkan, seleranya bagus, sekelilingnya baik. Oh iya, sepanjang pergantian busana ini, makna dan filosofi masing-masing pakaian dijelaskan oleh MC kami yang sangat menguasai sejarah dan adat Jawa. Beliau adalah Pak Wigung Wratsangka. Menurut cerita Pak Wigung, tiap-tiap pakaian mewakili perkembangan bayi di tiap bulan. Baju pertama = bulan pertama, dst. Itu salah satu sebab kenapa jawaban "pantas" baru diberikan di pakaian ke-tujuh, yaitu saat bayi memasuki bulan tujuh dan sudah pantas untuk menuju kelahirannya. Manis, ya? 🌻

IMG_2019040213364722.JPG

TIGAS KENDIT, BROJOLAN & NGUDHANG


IMG_201904021528051.JPG

Setelah pantes-pantesan akhirnya selesai, upacara dilanjutkan dengan beberapa prosesi kecil yang mengarah ke sesi penutupan. Yang pertama ada "Tigas Kendit", dimana saya diikat dengan kendit janur kuning dan kemudian dipotong oleh pak Gempa dengan menggunakan keris yang ujungnya ditancapkan potongan kunyit sebagai perlambang tolak bala. Pemutusan kendit ini menyimbolkan doa dan harapan sang Bapak untuk memutuskan segala penghalang yang menutupi jalan kelahiran calon anaknya nanti. Udah kan, kelar Tigas Kendit, dilanjutkan dengan "Brojolan": saat dua Cengkir Gading (kelapa gading muda) yang telah ukir gambar wayang (katanya biasanya antara gambar Betara Kamajaya-Dewi Ratih atau Harjuna-Sembadra) "diluncurkan" oleh calon ayah melewati perut calon ibu (yang dibungkus kain batik) dan disambut oleh nenek calon bayi (yang udah siap nangkep di bawah kaki). Supaya si anak lancar keluarnya, kemudian mewarisi paras rupawan dan ayu seperti para dewa-dewi yang terukir di Cengkir Gading tersebut.

IMG_2019040213364719.JPG
IMG_2019040213364718.JPG
IMG_2019040210564245.JPG
IMG_2019040210564233.JPG
IMG_2019040210564234.JPG
IMG_2019040213364731.JPG

Lalu hadirlah bagian kocak dari "sesi" ini dimana para eyang (orangtua saya dan Gempa) harus menimang-nimang Cengkir Gading dari hasil Brojolan tadi, sambil bergantian "Ngudhang" atau bernyanyi untuk sang calon cucu. Tau kan, semacem pas kita liat oma atau mama kita gendong bayi sambil nyanyi-nyanyi... Papa mertua kemarin menyanyikan "Lelo Ledung", lagu Jawa gitu yang sering digumamkan untuk menimang bayi (kayanya sempat dinyanyikan oleh Waldjinah ya, penyanyi Jawa senior itu~), sedangkan Papa saya cukup menyambung dengan lagu "Nina Bobok" singkat, andalan sejuta umat Indonesia. 😁😁😁

IMG_201904021336475.JPG

DHAHAR KEMBUL, ANGREM & NGUKUT PETARANGAN


IMG_2019040213364717.JPG

Bagian selanjutnya adalah, potong tumpeng dan makan berdua sama Pak Gempa. Saya diminta duduk diatas kumpulan kain bekas prosesi pantes-pantes tadi, ibarat ayam betina yang mengerami telurnya πŸ˜€ Nama "kegiatan" dudukin kain ini adalah Angrem. Menurut Pak Wigung, Angrem dilakukan supaya calon anak yang sedang dikandung akan lahir cukup usia (cukup bulannya). Sembari Angrem, Pak Gempa diminta potong tumpeng dan mengambil santapan untuk kami makan berdua sampai habis. Ini namanya Dhahar Kembul, makan berdua dari satu piring. Ada bagian makan jenang juga, kalo nggak salah sebutannya Dhahar Jenang Procot. Kami berdua udah lumayan laper dan haus sih itu ya, jadi kalau ada yang liat videonya (dari highlight Insta Stories saya mungkin) pasti tau betapa bahagianya kami disuruh makan saat itu 😌😌😌

IMG_201904021336477.JPG
IMG_2019040213364716.JPG
IMG_201904021528052.JPG
IMG_201904021336474.JPG

Penutupnya? Sebuah kegiatan gotong-gotong kain ke ruang ganti, yang dinamakan Ngukut Petarangan. Calon Bapak Ibu mengumpulkan kain yang dipakai Angrem tadi, diikat pakai gendongan jarik, dan dibawa berdua masuk ke dalem rumah. Nah disini lupa nih maknanya apa, mungkin maksudnya ibarat bebersih rumah dan membereskan hati supaya siap buat menyambut calon bayi kali ya? Nanti saya konfirmasi ke Pak Wigung deh πŸ™ˆ. Yang jelas saya sama Pak Gempa diminta berganti baju, saya ganti kebaya yang cakepan gitu, Pak Gempa ganti kain yang dia pakai supaya samaan dengan kain yang saya kenakan.

IMG_201904021336473.JPG

SADE DAWET (DODOL DAWET)


IMG_2019040210564220.JPG

Ini bagian yang saya paling demen di setiap acara Mitoni! Jualan dawet, atau Sade / Dodolan Dawet namanya. Si calon Ibu dipakaikan gendongan yang isinya semacam bakul kecil (kalau di Jawa, bakul itu sebutan buat tempat nasi deh kayanya, semoga nggak salah ya πŸ˜‚) yang dibungkus kain renda putih. Buat taroh duit, kata Bu Tienuk. Kan ceritanya saya sama Pak Gempa disuruh jualan dawet, dan sama team Bu Tienuk udah disiapin kreweng alias semacam koin dari tanah liat, yang bisa diambil oleh para tamu untuk dijadikan mata uang "sah" dalam membeli dawet yang dijual calon Ibu. Di beberapa mitoni ada juga yang jualannya selain dawet juga rujak, jadi si calon Ibu jualan dawet, trus calon Bapak-nya jualan rujak. Nah kalo yang jualan cuma si calon Ibu, tugas si calon Bapak adalah mayungin si Ibu biar ngga kepanasan πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Jadilah pak Gempa ikut keliling dan jualan dengan menenteng payung renda-rendanya itu kesana kemari. Sistemnya, tamu bawa kreweng ke pondokan dawet Bu Epoy, dan menukarkannya dengan segelas es dawet ayu manis yang disiapkan oleh Bu Epoy sendiri.

IMG_2019040213364715.JPG
IMG_2019040213364728.JPG
IMG_2019040213364730.JPG
IMG_2019040213364712.JPG
IMG_201904021336470.JPG
IMG_201904021336478.JPG
IMG_201904021336471.JPG

Apa pesan moral dari sesi jualan dawet ini? Bahwasanya jualan dawet itu nggak gampang πŸ˜‚ Tumpah kemana-mana dan lengket karena yang jualan grogi hehehe. Tapi seneng karena bisa berinteraksi sama tamu-tamu, mengucapkan terima kasih atas kedatangan mereka, memohon doa untuk kesiapan menjadi calon orang tua. Kalau filosofi Jawa-nya sendiri yang sempet saya dengar sepertinya berkaitan dengan harapan supaya rejeki kepada calon keluarga baru ini mengalir dengan manis, semanis dan selaris dawet jualan saya sore hari itu. Diaminkan! πŸ€—πŸ€—πŸ€— Momen jualan dawet ini juga akhirnya jadi penutup yang manis untuk kegiatan sore itu, yang dilanjutkan dengan acara makan-makan dan nyanyi-nyanyi sampai puas. Acara yang dimulai jam 15.30 berakhir sekitar pukul 17.30, dan tamu-tamu masih pada betah ngobrol disana sampai sekitar pukul 20.00 malam. What a day!


DEKORASI & VENDOR LAINNYA


IMG_2019040210564239.JPG

Baik, sampai juga di ujung cerita, dimana per-mitoni-an ini akan saya tutup dengan list vendor yang berperan utama di acara kemarin. Sebisa mungkin saya cantumkan kontak masing-masing juga ya seandainya ada yang pengen tanya-tanya. Monggo~

  1. DOKUMENTASI : KENCANA ART PHOTOGRAPHY

    Jl. Pangeran Diponegoro No.106, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55233 | Telp. (0274) 513064 | IG: @kencanaphotography

  2. DEKOR : GRIYA MANTEN GALLERY

    CP: +6287738831441 | IG @griyamantengallery

  3. VENUE & CATERING : PULEN KOPI PONTI

    Jl. Candi sambisari, Jl. Kadirojo 1 No.16A, Purwomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55571 | Telp. (0274) 2851560 | IG: @pulenkopiponti

  4. PEMANDU MITONI : HJ. TIENUK RIFKI & TITISARI GRYA PAES

    CP : (0274) 586312 | Or  @dewimeitasari at +62811186164 | IG: @tienukrifki

  5. PEMBAWA ACARA / MC : DR. WIGUNG WRATSANGKA

    CP : via @PengantinProductionYogyakarta +628122690087 | IG: @wigung_wratsangka

  6. EVENT ORGANIZER : DARPA PRODUCTION

    CP : +6281229776565 / +6285643309726 | IG: @darpaprodution

  7. MAKEUP ARTIST CLARA & IBU : ASTRID ANISAH

    CP : Line@ β€˜@astridanisahmua’ | +6282138500050 | IG : @astridanisah

  8. MAKEUP ARTIST KELUARGA : ANNA & ALING SALON

    Jl. Demangan Baru No.31, Mrican, Caturtunggal, Special Region of Yogyakarta 55281

    CP : (0274) 546278 | IG : @aling_salon

  9. SERAGAM MITONI

    Seragam Putri (Kebaya) oleh penjahit pribadi, seragam Putra (beskap) oleh Griya Titi Sari Paes milik Hj. Tienuk Rifki (CP diatas).

IMG_2019040210564252.JPG
IMG_2019040210564251.JPG
IMG_2019040210564244.JPG
IMG_2019040210564249.JPG

Fiuh! Panjang juga cerita soal Mitoni ini ya. Semoga bisa cukup memberikan gambaran tentang ritual yang keluarga kami jalani kemarin, sebagai apresiasi juga terhadap adat yang sudah turun temurun dijalankan sedari dulu... Mitoni ini biasanya dilaksanakan untuk kehamilan anak pertama, jadi ibaratnya momen sekali seumur hidup juga. Buat yang ingin menjalankan upacara Mitoni, saya sangat mendukung! Karena selain berpartisipasi dalam melestarikan adat, kita juga bisa merasakan energi positif dari kedatangan dan doa-doa para kerabat / tamu yang menyempatkan hadir. Buat saya energi tersebut menguatkan sekali. Semoga apa yang saya share lewat cerita Mitoni ini bisa berguna, ya, buat kita semua. Kalau mau menyimak videonya, ada di highlight Instagram saya (@lucedaleco) yang judulnya "Mitoni". Terima kasih sudah mampir dan membaca! Peluk erat!

IMG_2019040213364711.JPG

β€œMOTHER EARTH”, My Maternity-Inspired Collaboration With Love & Flair. (+GIVEAWAY!)

β€œMOTHER EARTH”, My Maternity-Inspired Collaboration With Love & Flair. (+GIVEAWAY!)

0