Hi.

If you stumbled upon this blog, that means our stars have crossed somewhere up above; possibly thousand years back. Some things change, but it's always nice to see a familiar face.

Let me wander with you.



Pregnancy: Planning Your Personalised Maternity Photoshoot

Pregnancy: Planning Your Personalised Maternity Photoshoot

IMG_8195.JPG

Hi again, teman-teman. Sekitar dua minggu lalu saya kedatangan sahabat slash abang slash fotografer favorit saya, Lambok Sinaga... Ada sedikit urusan di Jogja, katanya, sekalian mau jenguk bumil dan temu kangen. Kedatangannya secara dadakan menjadikan rencana foto maternity jadi terlaksana, setelah tadinya saya pikir nggak ada juga nggak papa (entah kenapa udah magerrr banget rasanya kalo musti persiapan dan ribet foto ini itu, apalagi modelan ala foto studio... hati ini sungguh malas bayangin rempongnya 😅). Satu-satunya kemungkinan yang sempat terlintas di benak saya saat ngobrol sama Bang Lambok memang sesi foto yang santai ala piknik gitu, yang pake baju sendiri dan makeup sendiri aja, rambut juga dibikin seadanya nggak perlu terlalu rapi. Fotonya di taman atau halaman rumah juga bisa, yang penting mau deket sama taneman, rumput-rumput dan dedaunan (nggak tau kenapa tapi pengennya gini dari kemaren 😂😂 kayanya si bos besok bakalan suka taneman kayak bapaknya deh). Bang Lambok pun sepakat, yang penting dia mau motoin calon ponakannya sebelum brojol katanya. Jadilah kami hari itu janjian layaknya orang mau pergi piknik aja: bawa dress cuma dua, yang satu udah dipake dari berangkat. Ringkes!

Jujur aja, jaman sekarang ini setiap momen rasanya seolah "harus" diabadikan sedemikian rupa, untuk kenang-kenangan dan juga keperluan konten media sosial. Foto dengan tema kehamilan atau yang kita sebut dengan maternity photoshoot pun demikian adanya. Saya lumayan sering ditanya-tanya soal konsep, soal vendor, soal dekor dan properti foto, soal stamina untuk menjalani sesi foto, kapan harus foto dan sebagainya. Jawaban saya biasanya sama: kamu sendiri pengennya yang seperti apa? Kebutuhan setiap orang dan kondisi kehamilan masing-masing dari kita kan pastinya berbeda, ya. Jadi nggak bisa dipukul rata "oh, harus foto studio", misalnya. Mumpung saya akhirnya jadi juga foto maternity, ada beberapa hal berkaitan dengan mempersiapkan sesi foto (yang konsepnya mirip-mirip dengan pengalaman saya) yang bisa saya bagi buat jadi bahan pertimbangan. I call mine as the "personalised maternity shoot", sebab sifatnya sangat sederhana dan dibuat dekat sekali dengan karakter saya pribadi. Seperti apa prosesnya?

IMG_8287.jpg

FIVE THINGS ABOUT PLANNING YOUR

PERSONALISED MATERNITY PHOTOSHOOT


  1. THINK ABOUT A CERTAIN MOOD THAT IS CLOSE TO YOUR PERSONALITY OR COMFORT

    Yak, semuanya kembali pada: mood. Kita udah ada bayangan lah ya soal foto maternity pada umumnya, yang ada di pinterest maupun di media sosial orang-orang. Ada yang fotonya sama pasangan, ada yang pake properti barang-barang calon bayi, ada yang bawa papan bertuliskan tanggal due date, dan sebagainya. Ada yang foto di studio, ada yang di padang gurun atau di kolam renang. Banyak banget pilihannya! Yang perlu dipikirkan pertama gampang aja kok: apa yang benar-benar kita suka dan punya makna yang dekat dengan hati kita. Saat memikirkan mau foto kemarin, yang terlintas di pikiran saya ya memang cuma foto yang sederhana dan “dekat” dengan alam —baik itu cuma pohon atau rumput pun cukup. Saya juga nggak pengen foto sama Pak Gege karena kami nggak cocok foto ala-ala, dan dia nggak bakalan bisa natural foto di rerumputan hahahaha. Jadi daripada memaksakan sesuatu yang kurang nyaman, dengan potensi hasil yang kurang natural juga, dari pertama pikiran saya memang pengen foto sendirian aja. Tapi ada pasangan lain yang suka foto couple, dan pasangannya bisa tuh misal dipakein kostum kembaran atau semacamnya, nah monggo banget didiskusikan sama pasangan… Pokoknya kalau foto disiapkan dengan rencana yang kita suka dan tertarik banget, pasti hasilnya bagus deh. Sahabat saya foto maternity temanya monokrom, karena dia dan suaminya memang sangat fanatik warna monokrom hahaha. Ada juga sahabat satunya yang cuma foto tangan dan perut, sekelibat aja kelihatan bayangan dirinya, karena nggak pengen fotonya kelihatan muka. Akhirnya hasilnya jadi “mereka banget”, kelihatan personal dan punya makna unik, menjadikan foto tersebut istimewa bagi mereka dan bagi orang luar yang melihat juga.

  2. WORK WITH A PHOTOGRAPHER FRIEND, OR SOMEONE YOU CAN BE COMFORTABLE WITH

    Nah ini penting juga nih. Menurut saya, foto saat lagi hamil tua (karena biasanya foto maternity dilakukan saat perut buncitnya udah cukup kelihatan ya) itu beda banget prosesnya dibandingkan foto lain saat kita lagi nggak hamil. Lamaran kek, kawinan kek… pas hamil bisa jadi ketahanan kita berubah, mood juga gampang naik turun, dikit-dikit gampang haus dan sesek napas karena perut udah penuh, misal. Salah satu alasan kenapa awalnya saya ngga kepikiran mau foto maternity ya karena males ngebayangin harus foto sama fotografer baru, mengingat saya lahiran di Jogja kan ya dan kebanyakan teman baik yang fotografer domisilinya di Jakarta. Males penyesuaian untuk jaim aja karena saya sadar bakalan mager dan bisa banget tiba-tiba jutek pas kelelahan saat foto 😝 Mangkanya dibutuhkan fotografer yang saya udah kenal, atau bisa percaya, untuk memahami kondisi tersebut hehehe. Begitupun kalau kalian mau hire vendor ya, ada baiknya kenal dulu atau pernah ketemuan dulu, supaya nggak terlalu sungkan atau kaku saat sesi foto berlangsung. Nggak mau kan lagi hamil tua berat-berat gitu dapet fotografer jutek atau MUA yang nggak ramah pas diminta touch-up, misal. Make sure you like the vendors you’ll be spending the whole session with. Trust me, it really matters.

  3. CHOOSE YOUR PRIORITY: THE RESULT VS THE PROCESS

    Perkara foto maternity emang cuma bisa dijadikan dua prioritas aja: mau lebih berat ke hasilnya, apa prosesnya? Kalau pengen hasilnya bener-bener sesempurna yang ada di referensi kamu, ya pasti ada effort yang harus diutamakan. Misal maunya ngejer sunset ya mau nggak mau harus pas tuh timing-nya untuk bisa dapet foto bagus di kala sunset. Maunya foto ala ballerina ya pasti kostum harus paripurna begitu juga dengan makeup dan hairdo-nya. Properti lumayan jadi kunci biasanya, dan nggak ada terlalu banyak waktu buat males-malesan. Sedangkan untuk tipe saya yang mementingkan proses, lebih tepatnya “proses-yang-maunya-nyaman-titik”, hasil tuh nomer dua deh. Nggak ngarep hasil yang gimana-gimana banget yang penting pas foto nggak kecapekan atau ngoyo. Jadi ya tiap capek dikit berenti, ngemil dulu, ngobrol dulu… Udah agak mendingan trus foto lagi. Tetiba kepanasan pas foto di rumput, ngadem dulu sebentar, ngobrol lagi… begitu seterusnya. Tapi nggak boleh ngotot hasil fotonya harus sempurna, karena ya tergantung sama kitanya pas difotoin, kan? Semakin banyak istirahat ya semakin dikit scene yang akan didapat, misal. Konsekuensi-konsekuensi ini bisa kita perkirakan sedari awal jadi pas eksekusi bisa langsung menyesuaikan, maunya gimana, dan bisa memperkirakan hasilnya akan bagaimana juga.

  4. FIND YOUR COSTUMES AND DECIDE HOW YOUR WHOLE LOOK WILL BE

    Ini gampang-gampang susah, ya. Semakin kepengenan kita ribet ya pasti wardrobe dan properti yang harus dicari makin memakan waktu juga. Jangan sampe pas hari H pemotretan kita malah masih pusing cari printilan atau nggak yakin mau makeup-nya seperti apa, misal. Buang-buang waktu soalnya, apalagi kalau lokasi fotonya pakai sewa (seperti di studio, biasanya kan terbatas jamnya… atau mau foto di pantai, kan harus pas jam tertentu supaya nggak flat cahayanya atau keburu gelap). Kalo mau gampang ya pilih kostum sama look yang ngga terlalu susah yaa 😬😬😬

  5. BE VERY MUCH YOURSELF AND HAVE FUN!

    Pada akhirnya, kita sendiri yang bisa merasakan pengalaman foto ini, bersama dengan calon bayi kesayangan yang ada di perut. Selama pemotretan, ngga perlu terlalu memikirkan masalah atribut seperti kayak apa nanti hasilnya, keliatan cakep kah gendut kah pucet kah atau enggak… Seneng-seneng aja ya! Sesekali minta intip hasil fotonya ke fotografer buat lihat progress, siapa tau bisa kasih ide untuk pose atau jepretan setelahnya. Setel musik, sesekali joget kecil. Bukankah kita sedang menciptakan kenangan untuk diri kita kelak, dan memori bersama si kecil untuk bisa dibicarakan bersama suatu hari nanti? Have the most possible fun during the session, do it for yourself, and for the baby!


Setelah beberapa jam piknik diselingi makan takeawaypizza, nyeruput es kopi susu, ngobrol sana-sini dan gegulingan di rumput... Inilah sebagian hasil dari sesi foto bersama Bang Lambok kemarin: in my very Lucedale, vintage-inspired, analog film, garden-ethereal aesthetic. 💖

IMG_9963.JPG
IMG_8174.jpg
IMG_8232.jpg
IMG_8201.jpg
IMG_8209.JPG
FullSizeRender.jpg
IMG_9824.JPG
IMG_8490.JPG
IMG_8303.JPG
IMG_8302.JPG

Begitulah, foto-foto dari piknik dua minggu lalu. At last, my very kind of maternity photos! Melakukan sesuatu yang keluarnya dari hati itu memang rasanya berbeda jika dibandingkan dengan melaksanakan rutinitas atau formalitas. Dalam konteks apapun. Jadi nggak ada salahnya untuk mencoba sesuatu yang berbeda dari kebanyakan, kalau memang selera dan keinginan kita pas dengan hal itu. In this case, of course, to plan your very own maternity shoot. Bisa aja pengennya foto tema unicorn atau sekedar leyeh-leyeh di kamar tidur. Bisa aja difotoin suami sendiri. Apapun itu, semoga bisa dinikmati sepenuhnya dan sangat nyaman untuk kamu coba ya. Selamat mencari inspirasi dan bersenang-senang dengan sesi fotomu! 💋


An Introduction to: Frances Dia 💫

An Introduction to: Frances Dia 💫

Pregnancy: "MITONI", The Traditional Javanese Ceremony (Tujuh Bulanan)

Pregnancy: "MITONI", The Traditional Javanese Ceremony (Tujuh Bulanan)

0